HALUT – Harapan besar warga Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, yang terbakar saat kemenangan Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara Serly Tjoanda-Sarbin, kini sirna. Mereka yang penuh semangat mencurahkan suara berharap perbaikan Jalan Tani Pana Buru, tapi aspirasinya tak sampai ke pihak yang diharapkan.
Tiga Desa Kecamatan Malifut, Desa Tomabaru, Sosol, dan Tahane – terpaksa membangun jalan usaha tani yang menjadi urat nadi perekonomian secara swadaya. Jalan ini adalah akses utama pengangkutan hasil pertanian masyarakat.
Aspirasi perbaikan jalan telah disampaikan berulang kali melalui Musrenbang dan pertemuan resmi lainnya. Namun tahun demi tahun, yang diterima hanya senyuman dan janji kosong, terutama menjelang pemilihan umum.
“Kita sudah tak tahu lagi harus berteriak ke mana. Setiap tahun datang dengan harapan, tapi hanya dapat janji yang menghilang,” ucap Hamsyah, salah satu warga.
Masyarakat akhirnya bergandengan tangan dengan pihak swasta. Mulai dari pembersihan lahan hingga pengecoran aspal, seluruh biaya berasal dari gotong royong dan dukungan swasta.
“Tak ada dana pemerintah yang digunakan. Semua dari jerih payah masyarakat dan pihak swasta,” jelas Kepala Desa Tahane, Rafid U. Basyarun.
Warga juga menyoroti delapan anggota DPRD dapil 3 Kao–Malifut yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret. Kini harapan tertuju pada pemerintah provinsi untuk memberikan solusi nyata.
“Bukan hanya jalan yang kita butuhkan, tapi rasa dihargai sebagai bagian dari masyarakat Maluku Utara. Kami percaya ibu gubernur akan mendengar suara kami,” tambah Hamsyah.
Keberhasilan pembangunan swadaya menjadi bukti kekuatan gotong royong, namun juga menjadi sorotan bagi pemerintah kabupaten dan provinsi terkait kebutuhan infrastruktur masyarakat pedesaan.
Warga setempat Acalu berharap: “Semoga pemerintah provinsi benar-benar melihat kondisi kita. Jalan yang kita bangun sendiri adalah bukti kita siap berjuang, tapi butuh tangan bantu yang sesungguhnya.”


